Banjir Berkabung
Kerangka karangan
Tema/topik : Banjir
Judul : Banjir Berkabung
Kerangka karangan :
1. Latar : waktu :
sore
Suasana : berkabung
2. Tokoh : Timmy,Putra,Bu Diah, Bu Alya,Pak
Purnomo
3. Pemicu konflik :
Timmy tersenyum melihat hujan
4. Konflik : Timmy bermain dengan banjir
5. Klimaks :
Orang tua Timmy mengikhlaskan kepergian timmy
6. Anti klimaks :
Surat Yasin yang dipimpin
oleh Pak Purnomo
Sore itu, kota Jember terasa lebih sejuk.
Bulan penghujan sudah mulai datang. Tanah persawahan sudah mulai lembab. Di
tengah kesejukan sore itu, terdengar suara anak-anak yang sedang bermain sepak
bola di lapangan. Letak lapangan itu bersebelahan dengan kantor Kepala Desa. Di
antara anak-anak kecil yang sedang asyik menendang bola, ada Timmy, bocah
laki-laki berusia sepuluh tahun. Bermain bola sudah menjadi rutinitas
sehari-hari Timmy dan teman-temanya setelah pulang sekolah.
Tidak
seperti biasanya, Timmy dan teman-temanya yang terbiasa mengakhiri pertandingan
sepak bola setelah adzan maghrib. Tidak seperti biasanya, pertandingan sepak
bola harus diakhiri lebih awal. Alasan Timmy mengakhiri pertandingan bola lebih
awal, bukan karena tim Timmy menang telak dengan skor 4-0, tapi ditengah
pertandingan langit sudah menampakan warna gelapnya. Pertanda hujan akan segera
turun.
“Sudah
dulu ya. Kelihatanya mau hujan,” ujar Timmy kepada teman-temanya.
Putra, teman Timmy, yang kebetulan waktu itu menjadi tim lawan Timmy seolah tidak terima dengan ajakan Timmy, “Ah, Kamu curang. Mentang-mentang sudah menang, mau berhenti. Tidak bisa. Ayo kita teruskan main bolanya.”
Putra, teman Timmy, yang kebetulan waktu itu menjadi tim lawan Timmy seolah tidak terima dengan ajakan Timmy, “Ah, Kamu curang. Mentang-mentang sudah menang, mau berhenti. Tidak bisa. Ayo kita teruskan main bolanya.”
“Kamu tidak lihat, langit sudah gelap. Aku takut kalau ada petir.”
“Kamu cari-cari alasan saja
Mi. Ayo kita
teruskan, kalau hujan tambah seru. Biasanya kita juga masih lanjut kalau hujan.
Toh, sekarang masih belum ba’da maghrib.”“Kamu cari-cari alasan saja
“Kamu tidak mendengar kabar baru-baru ini, hah?” Sahut Timmy dengan raut wajah serius.
“Kabar apa?”
“Dasar anak rumahan! Minggu kemarin, anak Bu
Diah, Andra, yang tinggal di
kampung sebelah meninggal gara-gara tersambar petir waktu mencari katak di
sawah. Kamu mau nyusul, hah!”“Hah, penakut kamu. Soal mati-hidup sudah diatur sama yang Di atas, kata Pak
Ustadz. Jadi gak usah cari-cari alasan deh.”“Kabar apa?”
“Dasar anak rumahan! Minggu kemarin, anak Bu
“Terserah kamu saja lah. Aku mau balik sekarang, kalau kalian
masih mau main ya silahkan. Aku balik dulu.”
Mendengar perdebatan itu, teman-teman Timmy lainya hanya terdiam. Putra
yang awalnya ingin terus bermain, akhirnya ikut pulang juga. “Permainan tidak
menjadi seru, ketika Timmy pulang, aku
pulang saja,” pikir Putra.
Seperti lampu kamera, langit sudah mulai menampakan
kilat-kilat cahaya, pertanda hujan deras akan segera turun diselingi dengan
petir. Timmy berlari kencang menuju
rumahnya. Jarak antara lapangan sepak bola dengan rumahnya tidaklah terlalu
jauh. Ketika berlari menuju rumah, nampak dari kejauhan oleh mata Timmy cerobong asap milik pabrik tambang minyak. Cerobong itu
berdiri dengan sombongnya di tengah guyuran hujan.
“Itu bangunan apa ya? Dan pipa besar yang mengeluarkan asap
itu fungsinya apa?” dalam hati, Timmy
bertanya pada dirinya sendiri.
Sudah hampir empat tahun pabrik penambangan minyak itu
berdiri. Kota Jember menjadi lokasi yang
potensial untuk didirikan pabrik minyak. Hal itu tidak lepas dari rumusan para
pakar ilmu pasti yang menyatakan bahwa kota Jember memiliki sumber daya minyak yang bisa diekspoitasi.
Rumah Timmy tidak begitu
mewah, tapi tidak terlalu jelek juga. Rumahnya terlihat seperti penduduk desa
pada umumnya: memiliki halaman depan yang luas, di samping kiri rumahnya
terdapat kandang berisi seekor Lembu dan anaknya, dan sebelah kanan, sedikit
agak kebelakang ada tempat jemuran sederhana. Sewaktu Timmy masuk ke dalam rumah, terlihat Ibu dan Bapaknya sedang asyik
mengobrol.
“Assaalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam,” Jawab Bapak dan Ibunya dari dalam rumah.
“Dari mana kamu
Mi?” Tanya Bapaknya
sembari menghisap rokok tingwe.“Biasa Pak, habis main bola sama teman-teman di lapangan.”“Wa’alaikumsalam,” Jawab Bapak dan Ibunya dari dalam rumah.
“Dari mana kamu
“Sudah. Cepat ganti baju. Nanti, kamu masuk angin,” Perintah
ibunya.
“Iya Bu.”
“Iya Bu.”
Timmy bergegas menuju kamar mandi. Baju dan celana yang kotor
terkena lumpur, dia lemparkan ke dalam ember tempat cucian. Sembari mencuci
bajunya yang terkena lumpur, Timmy
membilas seluruh badanya. Mandi sembari mencuci. Ketika sedang asyik mandi, Timmy mulai teringat kembali dengan bangunan putih yang dilihatnya
tadi. Timmy yang usianya baru 14 tahun,
belum paham betul bahwa bangunan itu bernama pabrik. Selain mengagumi besarnya
bangunan itu, Timmy juga terkesima melihat
pipa besar yang hampir setiap hari mengeluarkan asap putih, bahkan ketika
hujan.
“Aku mau tanya sama Bapak dan Ibu, ah, setelah ini,” ujar
Timmy dalam hati.“Aku mau tanya sama Bapak dan Ibu, ah, setelah ini,” ujar
Tubuh Timmy kembali
nampak segar setelah mandi. Pakaian kotor yang sudah dicuci tinggal dijemurnya
setelah hujan reda. Pakaianya sudah berganti. Timmy memang sudah terbiasa melakukan apapun secara mandiri, hanya
satu kegiatan yang tidak bisa dilakukanya sendiri yaitu cebok setelah buang air
besar. Pernah suatu ketika, Timmy ingin
cebok sendiri setelah buang air besar, tapi hasilnya kurang bersih. Kotoran
yang menempel di pantat kecilnya masih tertinggal, mungkin karena tangan Timmy yang masih terlalu kecil untuk melakukan pekerjaan itu.
“Bu, bangunan putih, besar di sebelah sana itu, namanya apa?” Tanganya sambil
menunjuk ke sembarang arah.
“Bangunan yang mana?”
“Haduh, itu-itu yang besar warnanya putih dan sebelahnya ada pipa besar yang bisa menegeluarkan asap.”
“Oh, itu namanya pabrik Le.”
“Bangunan yang mana?”
“Haduh, itu-itu yang besar warnanya putih dan sebelahnya ada pipa besar yang bisa menegeluarkan asap.”
“Oh, itu namanya pabrik Le.”
“Pabrik itu sama kayak rumah ya, Bu? Kalau rumah, kok, besar?
Pasti yang punya orang kaya?”
“hahahahaha,” Bapaknya yang mendengar pertanyaan polos itu, lantas tertawa terbahak-bahak.
“Ya beda, toh, kalau rumah itu buat tempat tinggal, kalau pabrik itu tempatnya orang kerja.” Ibunya berusaha menjelaskan.
“hahahahaha,” Bapaknya yang mendengar pertanyaan polos itu, lantas tertawa terbahak-bahak.
“Ya beda, toh, kalau rumah itu buat tempat tinggal, kalau pabrik itu tempatnya orang kerja.” Ibunya berusaha menjelaskan.
“Oh, tempat kerja. Kalau tempat kerja berarti bisa dapat uang
dong, Bu?”
“Iya. Coba tanya sama Bapak saja, sana,” terlihat Ibu sudah mulai lelah menjawab brondongan pertanyaan
Timmy.“Iya. Coba tanya sama Bapak saja, sana,” terlihat Ibu sudah mulai lelah menjawab brondongan pertanyaan
“Yang dikatakan Ibumu benar Le. Kalau rumah buat tempat kita
istirahat, kalau pabrik tempat orang cari uang,” Bapak Timmy berusaha memberi jawaban yang sederhana agar mudah
dimengerti Timmy yang masih anak-anak.
“Lho, kalau di sana bisa cari uang, kenapa Bapak gak ke sana, supaya dapet uang banyak? Kan, uangnya bisa buat beli TV baru,” tanganya sembari menunjuk TV tua yang ada di ruang keluarga.
“Husssh, jangan ngomong gitu. Kan, Bapakmu sudah bekerja di sawah. Uang sekolah kamu memangnya datang dari mana, kalau tidak dari sawah,” Sahut Ibunya.
“Lho, kalau di sana bisa cari uang, kenapa Bapak gak ke sana, supaya dapet uang banyak? Kan, uangnya bisa buat beli TV baru,” tanganya sembari menunjuk TV tua yang ada di ruang keluarga.
“Husssh, jangan ngomong gitu. Kan, Bapakmu sudah bekerja di sawah. Uang sekolah kamu memangnya datang dari mana, kalau tidak dari sawah,” Sahut Ibunya.
Timmy yang sejak tadi mengobrol dengan Bapak dan Ibunya, ternyata
tidak menyimak betul apa yang diucapkan kedua orangtuanya. Sembari mengobrol, Timmy terlihat tersenyum sendiri.
“Le, kamu kenapa kok senyam-senyum? Hujan-hujan begini jangan
kebanyakan melamun, nanti kesambet.”
“Nggak, kok, Bu.”
Bapaknya penasaran dan menyakan maksud senyuman
Timmy. Timmy yang awalnya
malu-malu, akhirnya menjawab juga.“Nggak, kok, Bu.”
Bapaknya penasaran dan menyakan maksud senyuman
“Eh, itu Pak. Sekarang, kan, sudah musim hujan. Kalau
sekiranya desa kita banjir lagi, Timmy
jadi senang.”
“Lho, kok gitu? Ya moga-moga jangan sampai banjir lah. Hampir tiap tahun desa kita ini terendam banjir, semoga tahun ini tidak. Apalagi, bapak dengar kabar, salah satu pejabat tinggi akan berkunjung ke desa kita. Semoga kunjunganya bisa merubah kondisi desa kita yang selalu banjir tiap tahun.”
“Lho, kok gitu? Ya moga-moga jangan sampai banjir lah. Hampir tiap tahun desa kita ini terendam banjir, semoga tahun ini tidak. Apalagi, bapak dengar kabar, salah satu pejabat tinggi akan berkunjung ke desa kita. Semoga kunjunganya bisa merubah kondisi desa kita yang selalu banjir tiap tahun.”
“Nggak! pokoknya Timmy
nggak setuju, kalau ada orang yang mau menghilangkan banjir,” Bantah Timmy dengan polosnya.
“Kamu mau kalau desa kita terus-terusan banjir?”
Timmy diam saja mendengar ucapan Bapaknya.“Kamu mau kalau desa kita terus-terusan banjir?”
“Sudahlah Pak. Timmy
masih anak-anak. Dia belum mengerti,” Ibunya berusaha menengahi.
“
Timmy, memangnya kenapa kamu kok senang
desa kita ini Banjir?”“Kan, kalau banjir enak, Bu. “
Timmy bisa berenang sama teman-teman.” Jawab Timmy dengan polosnya.Orangtuanya hanya tercengang mendengar jawaban itu dan tidak membantah ucapan
Timmy.
Suasana sudah mulai ramai. Para bapak sudah mulai hadir dan
memenuhi rumah Timmy. Acara yang sudah
dijadwalkan setelah shalat maghrib akan segera dimulai. Acara belum bisa
dimulai, karena Pak Purnomo, selaku tokoh
masyarakat sekaligus pemimpin do’a, belum hadir. Seperti pada umumnya, orang
penting biasa datang terlambat. Sembari menunggu acara dimulai, orang-orang
mulai sibuk dengan obrolanya masing-masing. Karena kebanyakan berlatar belakang
sebagai petani, maka perbincangan tidak lepas dari masalah: pupuk, padi, musim
dan hal lain yang menyangkut urusan pertanian.
Ibu
Timmy berada di dapur. Bersama dengan
ibu-ibu lainya, Ibu Timmy beserta
rekan-rekanya mendapat tugas menyiapkan makanan untuk Bapak-Bapak yang berdoa
di ruang tengah.Ibu
“Bu, bu, bu,” tegur Ibu Diah
kepada Bu Alya.
Teguran itu tidak dihiraukan. Ibu
Alya
seperti orang yang kesurupan. Tatapan matanya kosong.Teguran itu tidak dihiraukan. Ibu
“Bu Alya!” Teriakan Bu Diah yang cukup kencang, selain membangunkan Bu Alya dari lamunanya, teriakan itu turut mengagetkan ibu-ibu lain
yang sedang sibuk menyiapkan makanan.
“Eh, iya Bu maaf,” Jawab Bu
Alya dengan
raut wajah kebingungan.“Eh, iya Bu maaf,” Jawab Bu
“Masih kepikiran Timmy?
Bu, Maaf sebelumnya, bukanya saya mau menasehati, tapi, ikhlaskan saja
kepergian Timmy. Saya awalnya juga sering
melamun, ketika anak saya, Andra,
meninggal terkena petir. Tapi setelah saya pikir-pikir semua sudah ada yang
mengatur, jadi saya sudah bisa menerima. Saya tahu betul perasaan njenengan.”
“Tapi Bu, kasus Timmy
dengan Andra beda.” Air mata mulai
membasahi pipi Bu Alya. Sembari menangis
tersedu-sedu dia melanjutkan, “kalau sampean mungkin bisa menerima hal itu
sebagai takdir, karena penyebabnya adalah petir, tapi kalau Timmy? Huh, huh, huh. Timmy
meninggal karena hanyut terseret banjir, dan banjir tidak bisa dikatakan takdir.
Banjir itu penyebabnya manusia, Bu. Lihat itu, gara-gara ada pabrik di
mana-mana, desa kita jadi sering banjir. Saya juga kecewa dengan pejabat yang
beberapa hari lalu datang ke desa kita, sebelum kejadian nahas itu terjadi.
Saya kira pejabat itu ingin membuat desa kita terbebas dari banjir, tapi
nyatanya, Pejabat itu datang ke sini hanya untuk acara makan-makan dengan
orang-orang berdasi dari pabrik itu!”
“Hussh, Istighfar, Bu, jangan bilang begitu. Setidaknya, ada
hikmah dari kejadian itu. Dengan adanya kejadian itu, suamimu kan sekarang
sudah diangkat sebagai pegawai di sana. Jadi sekarang ndak usah repot-repot
ngurusin sawah yang hanya tinggal sepetak itu. Gajinya besar pula,” ujar Bu Diah sembari memeluk Bu Alya.
“Iya juga sih,” Jawab Bu
Alya sambil terus
menangis.“Iya juga sih,” Jawab Bu
Suasana Malam yang hening terpecahkan dengan lantunan Surat
Yasin yang dipimpin oleh Pak Purnomo.
Semua yang hadir di rumah Timmy khusyuk
berdo’a, berharap Do’a itu bisa sampai ke Timmy
yang sudah tenang di alam sana akibat tenggelam di tengah musibah banjir yang
menimpa desanya beberapa hari lalu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar