Kamis, 10 Oktober 2019

Banjir Berkabung

Banjir Berkabung

Kerangka karangan
Tema/topik                  : Banjir
Judul                            : Banjir Berkabung
Kerangka karangan      :
1.      Latar                            :  waktu           : sore
   Suasana        : berkabung
2.      Tokoh                          : Timmy,Putra,Bu Diah, Bu Alya,Pak Purnomo
3.      Pemicu konflik            : Timmy tersenyum melihat hujan
4.      Konflik                        : Timmy bermain dengan banjir
5.      Klimaks                       : Orang tua Timmy mengikhlaskan kepergian timmy
6.      Anti klimaks                : Surat Yasin yang dipimpin oleh Pak Purnomo



Sore itu, kota Jember terasa lebih sejuk. Bulan penghujan sudah mulai datang. Tanah persawahan sudah mulai lembab. Di tengah kesejukan sore itu, terdengar suara anak-anak yang sedang bermain sepak bola di lapangan. Letak lapangan itu bersebelahan dengan kantor Kepala Desa. Di antara anak-anak kecil yang sedang asyik menendang bola, ada Timmy, bocah laki-laki berusia sepuluh tahun. Bermain bola sudah menjadi rutinitas sehari-hari Timmy dan teman-temanya setelah pulang sekolah.
Tidak seperti biasanya, Timmy dan teman-temanya yang terbiasa mengakhiri pertandingan sepak bola setelah adzan maghrib. Tidak seperti biasanya, pertandingan sepak bola harus diakhiri lebih awal. Alasan Timmy mengakhiri pertandingan bola lebih awal, bukan karena tim Timmy menang telak dengan skor 4-0, tapi ditengah pertandingan langit sudah menampakan warna gelapnya. Pertanda hujan akan segera turun.
“Sudah dulu ya. Kelihatanya mau hujan,” ujar Timmy kepada teman-temanya.
Putra, teman Timmy, yang kebetulan waktu itu menjadi tim lawan Timmy seolah tidak terima dengan ajakan Timmy, “Ah, Kamu curang. Mentang-mentang sudah menang, mau berhenti. Tidak bisa. Ayo kita teruskan main bolanya.”
“Kamu tidak lihat, langit sudah gelap. Aku takut kalau ada petir.”
“Kamu cari-cari alasan saja
Mi. Ayo kita teruskan, kalau hujan tambah seru. Biasanya kita juga masih lanjut kalau hujan. Toh, sekarang masih belum ba’da maghrib.”
“Kamu tidak mendengar kabar baru-baru ini, hah?” Sahut Timmy dengan raut wajah serius.
“Kabar apa?”
“Dasar anak rumahan! Minggu kemarin, anak Bu
Diah, Andra, yang tinggal di kampung sebelah meninggal gara-gara tersambar petir waktu mencari katak di sawah. Kamu mau nyusul, hah!”“Hah, penakut kamu. Soal mati-hidup sudah diatur sama yang Di atas, kata Pak Ustadz. Jadi gak usah cari-cari alasan deh.”
“Terserah kamu saja lah. Aku mau balik sekarang, kalau kalian masih mau main ya silahkan. Aku balik dulu.”
Mendengar perdebatan itu, teman-teman Timmy lainya hanya terdiam. Putra yang awalnya ingin terus bermain, akhirnya ikut pulang juga. “Permainan tidak menjadi seru, ketika Timmy pulang, aku pulang saja,” pikir Putra.
Seperti lampu kamera, langit sudah mulai menampakan kilat-kilat cahaya, pertanda hujan deras akan segera turun diselingi dengan petir. Timmy berlari kencang menuju rumahnya. Jarak antara lapangan sepak bola dengan rumahnya tidaklah terlalu jauh. Ketika berlari menuju rumah, nampak dari kejauhan oleh mata Timmy cerobong asap milik pabrik tambang minyak. Cerobong itu berdiri dengan sombongnya di tengah guyuran hujan.
“Itu bangunan apa ya? Dan pipa besar yang mengeluarkan asap itu fungsinya apa?” dalam hati, Timmy bertanya pada dirinya sendiri.
Sudah hampir empat tahun pabrik penambangan minyak itu berdiri. Kota Jember menjadi lokasi yang potensial untuk didirikan pabrik minyak. Hal itu tidak lepas dari rumusan para pakar ilmu pasti yang menyatakan bahwa kota Jember memiliki sumber daya minyak yang bisa diekspoitasi.
Rumah Timmy tidak begitu mewah, tapi tidak terlalu jelek juga. Rumahnya terlihat seperti penduduk desa pada umumnya: memiliki halaman depan yang luas, di samping kiri rumahnya terdapat kandang berisi seekor Lembu dan anaknya, dan sebelah kanan, sedikit agak kebelakang ada tempat jemuran sederhana. Sewaktu Timmy masuk ke dalam rumah, terlihat Ibu dan Bapaknya sedang asyik mengobrol.
“Assaalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam,” Jawab Bapak dan Ibunya dari dalam rumah.
“Dari mana kamu
Mi?” Tanya Bapaknya sembari menghisap rokok tingwe.“Biasa Pak, habis main bola sama teman-teman di lapangan.”
“Sudah. Cepat ganti baju. Nanti, kamu masuk angin,” Perintah ibunya.
“Iya Bu.”
Timmy bergegas menuju kamar mandi. Baju dan celana yang kotor terkena lumpur, dia lemparkan ke dalam ember tempat cucian. Sembari mencuci bajunya yang terkena lumpur, Timmy membilas seluruh badanya. Mandi sembari mencuci. Ketika sedang asyik mandi, Timmy mulai teringat kembali dengan bangunan putih yang dilihatnya tadi. Timmy yang usianya baru 14 tahun, belum paham betul bahwa bangunan itu bernama pabrik. Selain mengagumi besarnya bangunan itu, Timmy juga terkesima melihat pipa besar yang hampir setiap hari mengeluarkan asap putih, bahkan ketika hujan.
“Aku mau tanya sama Bapak dan Ibu, ah, setelah ini,” ujar
Timmy dalam hati.
Tubuh Timmy kembali nampak segar setelah mandi. Pakaian kotor yang sudah dicuci tinggal dijemurnya setelah hujan reda. Pakaianya sudah berganti. Timmy memang sudah terbiasa melakukan apapun secara mandiri, hanya satu kegiatan yang tidak bisa dilakukanya sendiri yaitu cebok setelah buang air besar. Pernah suatu ketika, Timmy ingin cebok sendiri setelah buang air besar, tapi hasilnya kurang bersih. Kotoran yang menempel di pantat kecilnya masih tertinggal, mungkin karena tangan Timmy yang masih terlalu kecil untuk melakukan pekerjaan itu.
“Bu, bangunan putih, besar di sebelah sana itu, namanya apa?” Tanganya sambil menunjuk ke sembarang arah.
“Bangunan yang mana?”
“Haduh, itu-itu yang besar warnanya putih dan sebelahnya ada pipa besar yang bisa menegeluarkan asap.”
“Oh, itu namanya pabrik Le.”
“Pabrik itu sama kayak rumah ya, Bu? Kalau rumah, kok, besar? Pasti yang punya orang kaya?”
“hahahahaha,” Bapaknya yang mendengar pertanyaan polos itu, lantas tertawa terbahak-bahak.
“Ya beda, toh, kalau rumah itu buat tempat tinggal, kalau pabrik itu tempatnya orang kerja.” Ibunya berusaha menjelaskan.
“Oh, tempat kerja. Kalau tempat kerja berarti bisa dapat uang dong, Bu?”
“Iya. Coba tanya sama Bapak saja, sana,” terlihat Ibu sudah mulai lelah menjawab brondongan pertanyaan
Timmy.
“Yang dikatakan Ibumu benar Le. Kalau rumah buat tempat kita istirahat, kalau pabrik tempat orang cari uang,” Bapak Timmy berusaha memberi jawaban yang sederhana agar mudah dimengerti Timmy yang masih anak-anak.
“Lho, kalau di sana bisa cari uang, kenapa Bapak gak ke sana, supaya dapet uang banyak? Kan, uangnya bisa buat beli TV baru,” tanganya sembari menunjuk TV tua yang ada di ruang keluarga.
“Husssh, jangan ngomong gitu. Kan, Bapakmu sudah bekerja di sawah. Uang sekolah kamu memangnya datang dari mana, kalau tidak dari sawah,” Sahut Ibunya.
Timmy yang sejak tadi mengobrol dengan Bapak dan Ibunya, ternyata tidak menyimak betul apa yang diucapkan kedua orangtuanya. Sembari mengobrol, Timmy terlihat tersenyum sendiri.
“Le, kamu kenapa kok senyam-senyum? Hujan-hujan begini jangan kebanyakan melamun, nanti kesambet.”
“Nggak, kok, Bu.”
Bapaknya penasaran dan menyakan maksud senyuman
Timmy. Timmy yang awalnya malu-malu, akhirnya menjawab juga.
“Eh, itu Pak. Sekarang, kan, sudah musim hujan. Kalau sekiranya desa kita banjir lagi, Timmy jadi senang.”
“Lho, kok gitu? Ya moga-moga jangan sampai banjir lah. Hampir tiap tahun desa kita ini terendam banjir, semoga tahun ini tidak. Apalagi, bapak dengar kabar, salah satu pejabat tinggi akan berkunjung ke desa kita. Semoga kunjunganya bisa merubah kondisi desa kita yang selalu banjir tiap tahun.”
“Nggak! pokoknya Timmy nggak setuju, kalau ada orang yang mau menghilangkan banjir,” Bantah Timmy dengan polosnya.
“Kamu mau kalau desa kita terus-terusan banjir?”
Timmy diam saja mendengar ucapan Bapaknya.
“Sudahlah Pak. Timmy masih anak-anak. Dia belum mengerti,” Ibunya berusaha menengahi.
Timmy, memangnya kenapa kamu kok senang desa kita ini Banjir?”“Kan, kalau banjir enak, Bu.
Timmy bisa berenang sama teman-teman.” Jawab Timmy dengan polosnya.Orangtuanya hanya tercengang mendengar jawaban itu dan tidak membantah ucapan
Timmy.
Suasana sudah mulai ramai. Para bapak sudah mulai hadir dan memenuhi rumah Timmy. Acara yang sudah dijadwalkan setelah shalat maghrib akan segera dimulai. Acara belum bisa dimulai, karena Pak Purnomo, selaku tokoh masyarakat sekaligus pemimpin do’a, belum hadir. Seperti pada umumnya, orang penting biasa datang terlambat. Sembari menunggu acara dimulai, orang-orang mulai sibuk dengan obrolanya masing-masing. Karena kebanyakan berlatar belakang sebagai petani, maka perbincangan tidak lepas dari masalah: pupuk, padi, musim dan hal lain yang menyangkut urusan pertanian.
Ibu
Timmy berada di dapur. Bersama dengan ibu-ibu lainya, Ibu Timmy beserta rekan-rekanya mendapat tugas menyiapkan makanan untuk Bapak-Bapak yang berdoa di ruang tengah.
“Bu, bu, bu,” tegur Ibu Diah kepada Bu Alya.
Teguran itu tidak dihiraukan. Ibu
Alya seperti orang yang kesurupan. Tatapan matanya kosong.
“Bu Alya!” Teriakan Bu Diah yang cukup kencang, selain membangunkan Bu Alya dari lamunanya, teriakan itu turut mengagetkan ibu-ibu lain yang sedang sibuk menyiapkan makanan.
“Eh, iya Bu maaf,” Jawab Bu
Alya dengan raut wajah kebingungan.
“Masih kepikiran Timmy? Bu, Maaf sebelumnya, bukanya saya mau menasehati, tapi, ikhlaskan saja kepergian Timmy. Saya awalnya juga sering melamun, ketika anak saya, Andra, meninggal terkena petir. Tapi setelah saya pikir-pikir semua sudah ada yang mengatur, jadi saya sudah bisa menerima. Saya tahu betul perasaan njenengan.”
“Tapi Bu, kasus Timmy dengan Andra beda.” Air mata mulai membasahi pipi Bu Alya. Sembari menangis tersedu-sedu dia melanjutkan, “kalau sampean mungkin bisa menerima hal itu sebagai takdir, karena penyebabnya adalah petir, tapi kalau Timmy? Huh, huh, huh. Timmy meninggal karena hanyut terseret banjir, dan banjir tidak bisa dikatakan takdir. Banjir itu penyebabnya manusia, Bu. Lihat itu, gara-gara ada pabrik di mana-mana, desa kita jadi sering banjir. Saya juga kecewa dengan pejabat yang beberapa hari lalu datang ke desa kita, sebelum kejadian nahas itu terjadi. Saya kira pejabat itu ingin membuat desa kita terbebas dari banjir, tapi nyatanya, Pejabat itu datang ke sini hanya untuk acara makan-makan dengan orang-orang berdasi dari pabrik itu!”
“Hussh, Istighfar, Bu, jangan bilang begitu. Setidaknya, ada hikmah dari kejadian itu. Dengan adanya kejadian itu, suamimu kan sekarang sudah diangkat sebagai pegawai di sana. Jadi sekarang ndak usah repot-repot ngurusin sawah yang hanya tinggal sepetak itu. Gajinya besar pula,” ujar Bu Diah sembari memeluk Bu Alya.
“Iya juga sih,” Jawab Bu
Alya sambil terus menangis.
Suasana Malam yang hening terpecahkan dengan lantunan Surat Yasin yang dipimpin oleh Pak Purnomo. Semua yang hadir di rumah Timmy khusyuk berdo’a, berharap Do’a itu bisa sampai ke Timmy yang sudah tenang di alam sana akibat tenggelam di tengah musibah banjir yang menimpa desanya beberapa hari lalu.